POLA ASUH PADA ANAK

POLA ASUH PADA ANAK

Hallo Parents… pada artikel kali ini, kita akan membahas tentang bagaimana sih cara pola asuh pada anak yang benar.. untuk lebih lengkapnya yuk kita ketahui kiat-kiatnya.

Seringkali kita terjebak pada gaya pengasuhan yang menurut kita harus sempurna. Adanya tuntutan menjadi orangtua yang baik, memiliki anak-anak yang patuh dan manis juga membuat kita dapat salah memilih pada gaya pengasuhan dan akhirnya cenderung menekan anak untuk menjadi sesuai keinginan kita. Ini dapat membuat anak merasa jika dirinya tidak dekat atau kurang disayang oleh orangtua. Padahal, dari hasil penelitian menunjukkan jika anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua yang penuh kasih sayang menumbuhkan hippocampus (salah satu bagian otak) yang lebih besar. Dimana, di bagian ini terdapat memori, cara belajar dan respons terhadap stres yang lebih baik pada anak (Eanes, Rebeca. 2020). Sebelumnya, lebih baik kita mengenali beberapa gaya pengasuhan (Santrock, John W. 1995) :

a. Pengasuhan yang otoriter (authoritarian parenting)

Ini adalah suatu gaya pengasuhan yang membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah dari orangtua. Orangtua menetapkan batasan yang tegas dan tidak memberi peluang pada anak untuk diskusi. Seringkali pengasuhan otoriter diasosiasikan dengan inkompetensi sosial anak. Contohnya, “Sudah, ikut perintah Ayah!” atau “Kakak nurut mama, ga usah banyak bicara!”. Pada situasi tersebut, kedepannya anak dapat menjadi rentan cemas akan perbandingan sosial, gagal memprakarsai kegiatan dan memiliki ketrampilan komunikasi yang rendah. Bahkan, dalam suatu studi dikatakan jika disiplin awal yang terlalu kasar  diasosiasikan dengan agresi pada anak (Weiss & others, 1992)

b. Pengasuhan yang otoritatif (authoritative parenting)

Ini contoh pengasuhan dimana orangtua mendorong anak untuk mandiri namun tetap menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan-tindakan mereka. Pada gaya pengasuhan ini, orangtua terbuka pada diskusi dan memperlihatkan kehangatan serta kasih sayang pada anak. Orangtua yang otoritatif mungkin akan melingkarkan lengannya pada anak secara lembut sambil berkata, “Kakak seharusnya ga boleh kayak gitu. Ayo, kita ngobrol bagaimana cara sehingga kakak bisa mengatasi situasi tadi kalo terjadi lagi ya”. Anak-anak dengan orangtua otoritatif berkompeten secara sosial, percaya diri dan bertanggung jawab secara sosial.

c. Pengasuhan yang permissive-indiferent

Pada gaya pengasuhan ini, orangtua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. Tipe pengasuhan ini diasosiasikan dengan inkompetensi sosial anak, khususnya kurangnya kendali diri. Misalnya, membiarkan anak pulang malam dan tidak tahu posisi anak dimana atau apa yang dilakukan. Umumnya, anak dengan pola asuh ini punya keinginan yang kuat agar orangtua perduli atau perhatian pada mereka. Anak dengan pola asuh tersebut, merasa jika aspek-aspek lain kehidupan orangtua lebih penting dibanding mereka. Anak dengan pola asuh ini cenderung inkompeten secara sosial, yaitu memperlihatkan kendali diri yang buruk dan tidak membangun kemandirian dengan baik.

d. Pengasuhan yang permissive-indulgent.

Gaya pengasuhan ini adalah orangtua sangat terlibat dalam kehidupan anak-anak tapi menetapkan sedikit batas atau kendali pada mereka. Pengasuhan ini diasosiasikan dengan inkompetensi sosial anak, khususnya kurangnya kendali diri. Orangtua membiarkan anak melakukan apa yang diinginkan sehingga mereka tidak pernah belajar mengendalikan perilaku mereka dan selalu mengharapkan kemauannya dituruti. Anak dengan orangtua yang permissive-indulgent jarang belajar menaruh hormat pada orang lain dan kesulitan mengendalikan perilaku mereka.

Namun, yang harus dipahami, penting untuk menyesuaikan gaya pengasuhan dengan perubahan perkembangan pada anak. Contohnya, orangtua tidak boleh memperlakukan anak yang usia 5 tahun, sama seperti anak usia 2 tahun. Di tahun pertama, orangtua biasanya terfokus pada pengasuhan rutin, mengganti popok, memandikan, menidurkan, dan lain-lain. Di tahun kedua, orangtua mulai memasukkan unsur disiplin dalam pengasuhan terutama untuk menjaga keamanan anak. Sehingga biasanya menggunakan gaya pengasuhan otoriter dengan tetap disertai dengan alasan mengapa melarang. Contohnya, menjauhkan anak dari benda berbahaya, mennyuruh anak bermain di tempat yang aman, memberi hukuman jika anak tidak menurut perintah tersebut karena membahayakan diri mereka.

Tetapi, seiring bertambahnya usia anak, orangtua juga mulai menyesuaikan pengasuhan dengan mengajak diskusi, terbuka pada pendapat anak, memberi nasehat, dan lain-lain (Santrock, John W. 1995). Terutama jika anak memasuki masa remaja. Gaya pengasuhan otoriter justru lebih banyak memberikan dampak negatif bagi remaja. Sehingga, sebaiknya orangtua menggunakan gaya pengasuhan yang lebih bersifat otoritatif. Dorong remaja untuk berani berpendapat dan juga terbuka dalam mendengarkan pendapat mereka.

Hal tersebut juga dapat mengasah kemampuan remaja untuk berkomunikasi secara asertif. Yang penting dalam mengasuh anak adalah :

    1. Bangun kedekatan hubungan dengan anak. Misalnya, jadilah orangtua yang dicari anak ketika dia sakit, sedih, marah dan senang jika melihat anda kembali. Keterikatan penting, tidak perduli berapapun usia anak. Mengapa? Sebab, menurut hierarki kebutuhan Abraham Maslow, anak dapat mencapai aktualisasi diri jika semua kebutuhannya terpenuhi. Misalnya, makanan, minuman, tempat tinggal, keamanan, keselamatan, hubungan dengan teman-teman, kebutuhan emosional dan lain-lain. Orangtua sebaiknya menjadi ‘landasan’ sehingga anak merasa aman untuk berkembang.
    2. Bersikap empati. Terdengar mudah, namun sebenarnya sulit. Empati adalah keluar dari ‘sepatu’ ayah-ibu dan menempatkan diri dalam sepatu kecil anak sehingga paham akan sudut pandang mereka, sadar apa yang dirasakan, paham apa yang dibutuhkan (Eanes, Rebeca. 2020).
    3. Belajar untuk meminta maaf jika merasa salah. Hilangkan gengsi sebagai orangtua karena orangtua pun dapat melakukan kesalahan. Dengan meminta maaf, kita juga mengajarkan pada anak untuk melakukan hal yang sama jika mereka salah. Terlihat sederhana, namun di masa ini penting untuk mengajarkan anak hal tersebut.
    4. Dorong anak untuk belajar menyelesaikan masalah mereka, sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Contohnya, saat adik dan kakak bertengkar, orangtua sebaiknya menghindari untuk langsung melerai, selama hal tersebut tidak membahayakan bagi anak. Beri mereka kesempatan untuk belajar cara menyelesaikan masalah mereka, dengan cara mereka sendiri. Di usia 4-6 tahun, anak sudah dapat diajak diskusi cara menyelesaikan masalah, misalnya “Menurutmu kenapa hal tadi bisa terjadi?”, “Perasaan kakak sekarang bagaimana?”, “Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan jika ini terjadi lagi?”, dan lain-lain.
    5. Ajari anak untuk bertanggung jawab jika melakukan kesalahan. Misalnya, ketika anak bermain bedak dan berantakan, jangan memarahi anak karena ini adalah salah satu cara mereka mengeksplorasi dunianya. Sebaiknya, dorong anak untuk membersihkan bedak tersebut. Jika belum memungkinkan, ajak anak untuk ikut membantu ketika orangtua membersihkan bedak. Dengan cara tersebut, anak belajar jika tidak apa-apa melakukan kesalahan namun berani untuk bertanggung jawab.
    6. Yang dimaksud dengan konsisten adalah orangtua dan orang yang mengasuh anak melakukan pengasuhan dan menaati aturan yang telah ditetapkan secara konsisten. Ini untuk menghindari anak merasa bingung sehingga ditakutkan jika anak akan memilih mana yang menurutnya paling menyenangkan bagi dirinya. Contoh sederhana, orangtua tidak memperbolehkan anak untuk mendapat screentime lebih dari 1 jam. Namun, saat tidak ada orangtua dan hanya ada nenek atau pengasuh lain, mereka melakukan hal sebaliknya. Pola asuh yang tidak konsisten tersebut bisa berdampak anak menjadi kurang mampu untuk patuh pada aturan dan cenderung membangkang karena memilih aturan yang lebih menguntungkan bagi dirinya.

  Semoga membantu!

 

Penulis Ayu Larasati, M.Psi., Psikolog | Editor: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *