Menjalin Relasi Sehat pada Remaja. Bisa ga ya?

Hallo sahabat bahagia.. bagaimana kabar sahabat bahagi sampai saat ini ? admin harap semua selalu sehat ya, tetap patuhi protokol kesehatan dan tetap jalankan 5M ya.

Menjalin relasi dengan siapa saja memang sangat menyenangkan ya. banyak yang kita dapat dalam menjalin relasi tersebut, seperti kita bisa saling sharing pengalaman, bertukar pikiran, bertukar banyak informasi dan masih banyak lagi. Nah… tapi bisa gak ya menjalin relasi secara sehat pada remaja ?? terutama menjalin relasi dengan lawan jenis.

Yuk kita simak artikel berikut, Bagaimana sih Menjalin Relasi secara Sehat terutama pada Remaja

Menjalin Relasi secara Sehat pada Remaja. Bisa ga ya?

Masa remaja identik dengan masa ingin tau, masa coba-coba, termasuk dalam menjalin relasi. Sebenarnya, wajar jika remaja mulai tertarik dengan lawan jenis. Hal ini sebagai satu langkah persiapan untuk memenuhi tugas di masa dewasa yaitu menikah. Namun, yang harus dipahami, remaja harus mengetahui batasan-batasannya. Sejauh mana remaja boleh menjalin relasi dengan lawan jenis. Sebenarnya, faktor keluarga cukup krusial di masa ini, baik sosok ayah maupun ibu. Ayah adalah first love anak perempuannya. Ungkapan ini memang benar. Remaja perempuan yang memiliki figur ayah yang lekat dan penuh kasih sayang, akan merasa dirinya ‘cukup’. Ada standar tersendiri baginya terutama dalam mencari pasangan atau pacar. Lebih mudahnya, remaja perempuan tidak akan mudah terbujuk rayuan atau gombalan lawan jenis karena merasa kebutuhan dirinya untuk disayangi, dihargai dan dihormati, terpenuhi dari figur ayah tadi. Terlebih, karena adanya standar dari sosok ayah, remaja perempuan dapat menolak jika tidak sesuai dengan standar tersebut. Sebaliknya, remaja laki-laki yang melihat sosok ayah menghargai dan menghormati ibunya, akan melakukan hal yang sama pada lawan jenis. Mereka tidak akan memaksakan kehendaknya dan menghargai jika pacar atau pasangan menolak permintaan mereka.  Selain faktor figur orangtua, agama juga berperan penting untuk membantu remaja menjaga batasan. Keluarga sebaiknya mengajari tentang agama sejak kecil sehingga mereka memiliki ‘benteng keimanan’ sendiri. Hal ini karena mau tidak mau, orangtua akan melepas remaja sendiri, entah saat sekolah atau pergi bersama teman-temannya.  

Pacaran sendiri termasuk dalam salah satu perilaku seksual. Pada remaja, organ-organ seksual mereka mulai matang sehingga terlihat menarik di mata lawan jenis. Terlebih adanya pengaruh dari teman sebaya atau peer group yang mungkin mulai banyak berpacaran. Sehingga, remaja akan merasa harus pacaran agar dapat diterima oleh teman-temannya. Hal ini dapat dikatakan konformitas dimana remaja menyesuaikan pandangan, nilai atau value-nya agar sesuai dengan lingkungan kelompok. Di sisi lain, seringkali remaja belum terampil dalam mengambil keputusan karena memang masih banyak dipengaruhi oleh hormon, ditambah bagian Pre Frontal Cortex (PFC) yang bertugas dalam berpikir logis dan fungsi luhur, masih belum berkembang secara sempurna (Keisha, K., Birdy, D., Mahmudah, D. 2021). Cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan, hal ini ditambah dengan pengaruh perkembangan teknologi dimana memiliki dampak negatif, misalnya tercerabutnya akar budaya diri sendiri dan merasa bangga dengan budaya asing, berubahnya gaya hidup dan moralitas serta munculnya perilaku beresiko dan permasalahan sosial lainnya. Beberapa contoh perilaku seksual adalah pola makan yang salah, konsumsi rokok, alkohol dan narkoba, pornografi, seksualitas (Faroni, S., Situmorang, A., Prasetyoputra, P., Baskoro, A.A. 2020). Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi remaja untuk tetap berada di ‘jalur’ yang sesuai.

Menghadapi hal itu, remaja pada dasarnya perlu pengetahuan yang cukup terutama tentang perilaku seksual, sehingga dapat menjaga dirinya dari hal-hal negatif saat menjalin hubungan dengan lawan jenis. Bagaimana caranya?

  1. Orangtua membangun kondisi rumah yang hangat dan komunikasi terbuka sehingga remaja merasa aman bercerita tentang apapun yang terjadi. Dan ini sebaiknya dibangun sejak mereka masih kecil.
  2. Ajarkan pentingnya rambu-rambu dalam agama.
  3. Pahami jika walaupun remaja banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya, orangtua tetap harus tahu dan kenal lingkungan mereka. Jika memungkinkan, orangtua kenal dengan orangtua dari teman-teman si remaja.
  4. Ajarkan remaja untuk berkomunikasi secara asertif terutama pada pasangannya sehingga berani menolak jika ada tindakan yang dapat merugikan dirinya. Asertif adalah : responsif dan dapat mendengarkan secara aktif, berani mempertahankan pendapat namun dapat berlapang hati jika ditolak, memiliki empati dan jujur namun tidak dengan cara menyakiti orang lain (Keisha, K., Birdy, D., Mahmudah, D. 2021)

Sedangkan pada remaja, mereka harus paham tentang pentingnya :

  1. Hubungan yang sehat adalah hubungan dimana jauh dari kekerasan dan mendorong untuk saling berkembang. Dorong remaja untuk mengenali tindakan atau perilaku kekerasan dalam pacaran dan cara untuk mengatasi.
  2. Hindari berdua dalam tempat yang gelap atau sepi. Bagaimanapun, remaja harus belajar membuat batasan dalam berhubungan atau menjalin relasi. Berdua di tempat sepi rentan membuat salah satu pihak merasa ingin melakukan tindakan diluar batas karena merasa tidak ada yang melihat. Jadi, hindari ya.
  3. Ajak melakukan aktivitas positif bersama, misalnya melakukan kegiatan ekstrakurikuler bersama atau olahraga bersama
  4. Jadikan hubungan tersebut sebagai motivasi dan penyemangat diri, anggap kompetisi secara sehat. Lebih baik lagi bila sama-sama ikut kompetisi atau perlombaan tertentu. Jadi, ketika bertemu maka dapat saling bertukar pikiran atau diskusi soal event tersebut. Produktif kan?
  5. Kenalkan pasangan ke orangtua. Jangan salah, hal ini bukan selalu berarti hubungan serius dan langsung menikah. Namun, jika pasangan mengenal orangtua maka akan berpikir berulang kali dan merasa segan jika ingin melakukan tindakan negatif.
  6. Saling menghargai dan menghormati dengan pasangan. Jika pasangan menolak atas suatu tindakan atau keinginanmu, maka hal ini harus dihargai. Begitupun sebaliknya. Jangan jadikan rasa sayang sebagai tuntutan pasangan untuk selalu menurut. Sebaliknya, jadikan relasi ini sebagai salah satu cara belajar tentang bagaimana menghargai dan menjaga orang yang kamu sayangi.

Semoga membantu.

Oleh : Ayu Larasati, M.Psi., Psikolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *