Pendidikan Kependudukan: Kapan Perlu Dimulai?

Ada 2 orang anak sedang bercakap. Laki-laki umur sekitar 9 tahunan dan anak perempuan umur 5 tahunan. Mereka nampaknya sedang mengamati got di depan rumah mereka yang airnya hampir meluap. Semalam memang turun hujan yang cukup lebat. Timbul beberapa genangan di pinggir jalan. “Dik, awas mainnya jangan terlalu ke pinggir, nanti kecebur. Air gotnya sedang tinggi”, kata anak laki-laki itu pada adiknya. “Kak, kenapa sih air got bisa segini banyak? Apa karena hujan semalem?”, tanya si adik kemudian. Kakak lalu menjelaskan bahwa memang hujan dapat meningkatkan jumlah air di got namun tidak hanya itu yang serta merta membuat permukaan air got naik. Ada banyak sampah di dalam got sehingga membuat air got tidak dapat lancar mengalir. Orang-orang nampaknya masih terlalu cuek dengan membuang sampah sembarangan di got. Sampah itulah yang membuat got menjadi sesak dan tak cukup untuk menampung air. Itu salah satu pemicu terjadinya banjir.

Ya, kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan sampai saat ini masih cukup rendah. Keadaan ini mudah sekali dilihat di perkotaan, terutama di permukiman kumuh padat penduduk yang berada di pinggir sungai. Sungai telah dianggap sebagai tempat sampah raksasa sehingga mereka merasa bebas membuang apa saja, mulai sampah kecil hingga perabot rumah tangga yang tak laik lagi digunakan misalnnya meja kursi dan kasur.

Menjaga lingkungan (kebersihan, ketertiban, keamanan dan lain sebagainya) adalah tugas semua masyarakat. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Anak-anak (terutama balita) mudah sekali meniru apa yang dilakukan orang dewasa (terutama ayah ibunya) di rumah. Jika orang tuanya sering terlihat membuang sampah di sembarang tempat, maka ia akan menganggap perilaku tersebut adalah perilaku wajar dan kelak akan melakukan hal yang sama. Contoh lainnya, jika ia sering melihat orang tuanya berusaha melakukan daur ulang atau memilah sampah (misal memisahkan antara sampah organik – dari tumbuhan dan sampah anorganik – plastik, kaca, dll) maka anak pun akan menirunya. Perilaku memilah sampah dan menaur ulang sampah adalah salah satu bentuk perilaku menjaga lingkungan. Timbulnya perilaku tersebut adalah bentuk konkret yang ingin diwujudkan oleh pelaksanaan pendikan kependudukan.

Pendidikan Kependudukan adalah upaya terencana untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pada isu kependudukan agar terbentuk perilaku yang bertanggungjawab terkait kependudukan. Apa sajakah yang terkait kependudukan? Kuantitas penduduk (jumlah, pertambahan, pertumbuhan, kepadatan, dan sebagainya), kualitas penduduk (pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dll), lingkungan hidup, perpindahan penduduk, dan sebagainya. Mengapa penting melakukan pendidikan kependudukan? Agar tercipta kepedulian pada hal-hal yang ada di sekitar kita dan terbentuk perilaku yang bertanggung jawab misalnya menjaga lingkungan (misalnya tidak membuang sampah sembarangan, gemar menanam pohon, mendaur ulang sampah, memilah sampah) berbagi pada masyarakat yang membutuhkan, tidak mudik di masa pandemik dan sebagainya. Memang lingkup kependudukan itu sangat luas. Idealnya pendidikan kependudukan disesuaikan dengan usia anak. Ada materi dan media yang dapat digunakan untuk itu misalnya melalui dongeng, buku cerita bergambar, menggambar, mengamati lingkungan sekitar dan sebagainya. Melalui pendidikan kependudukan, anak-anak sedini mungkin dirangsang untuk peduli pada lingkungan sekitarnya (baik yang sifatnya fisik maupun nonfisik) dan mampu belajar bertingkahlaku yang menunjukkan kepedulian tersebut. Peran orang tua, pengasuh dan orang-oarang dewasa terdekat di lingkungan anak sangatlah penting dalam melaksanakan pendidikan kependudukan. Mungkin perilaku sekilas tampak luar akan sama, namun perilaku yang didasari oleh pemahaman yang memadai mengenai kependudukan akan berdampak lebih luas dan jangka panjang.

Buku-buku cerita bergambar untuk anak-anak dan balita dapat diunduh di tautan:  https://cis.bkkbn.go.id/dalduk/?p=20 (Materi Pendidikan Kependudukan untuk jalur informal – Materi Penyuluhan Poktan – Materi Bacaan PAUD_BKB). Terdapat 15 (lima belas) judul buku cerita bergambar yang berisi 5 isu kependudukan yaitu jumlah & pertambahan penduduk, penduduk usia produktif, remaja, lansia dan urbanisasi. Buku-buku tersebut sengaja didesain dengan tampilan menarik dan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami dan digunakan orang tua dan guru untuk menjelaskan isu-isu kependudukan kepada balita.

 

Penulis: Fonny

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat