Pentingnya Keluarga dalam New Normal

Presiden Joko Widodo dalam pernyataannya di Istana Merdeka pada tanggal 5 Mei 2020 menyatakan bahwa masyarakat Indonesia saat ini sudah harus bersiap menghadapi tatanan kehidupan baru atau yang sering disebut dengan new normal. Dalam masa new normal masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti biasa dengan protokol kesehatan yang ketat. Menurut Presiden, WHO telah menyatakan adanya kemungkinan Covid-19 tidak akan benar-benar terhenti. Oleh karenanya kita harus dapat berdamai dengan Covid-19 berada di tengah-tengah kita. Kita harus dapat hidup berdampingan dengan Covid-19.

Berbagai hal perlu disiapkan dalam era new normal ini. Sebagaimana dikatakan oleh Kepala Departemen Epidemiologi FKM UI, Tri Yunis Miko Wahyono (https://gaya.tempo.co/read/1346269/yang-perlu-dilakukan-masyarakat-di-era-new-normal-menurut-pakar), masyarakat perlu membiasakan diri dengan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan mencuci tangan. Begitu juga dengan perkantoran, pusat perbelanjaan, tempat usaha, serta sekolah harus mempersiapkan hal ini dengan baik.

Di sisi lain, Ida Ayu Saraswati Indraharsani, seorang psikolog klinis meyebutkan bahwa pembiasaan tatanan kehidupan baru ini berpotensi mempengaruhi kesehatan mental yang diakibatkan stress akibat proses adaptasi seseorang yang beragam terhadap pembiasaan terhadap protokol kesehatan yang ketat dalam kehidupan sehari-hari (https://gaya.tempo.co/read/1346214/awas-adaptasi-hidup-new-normal-bisa-pengaruhi-kesehatan-mental/full&view=ok). Proses adaptasi tentunya tidak mudah karena aka nada penolakan-penolakan terhadap kebiasaan baru yang harus dijalani. Penolakan terhadap kebiasaan baru yang merombak kebiasaan lama tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Saat ini saja masing sering ditemui masyarakat yang tidak menggunakan masker di tempat umum maupun tidak mencuci tangan saat melakukan aktivitas apapun.

Bagaimana kita menghadapi new normal ini? Bagaimana keluarga harus menyikapinya? Keluarga adalah wahana pertama dan utama dalam pembelajaran kehidupan seseorang. Keluarga adalah entitas utama dalam siklus hidup seorang manusia. Oleh karenanya keluarga juga akan berperan sangat penting dalam penerapan new normal. Keluarga yang akan mengajarkan kepada anggota keluarganya bagaimana menerapkan kebiasaan new normal ini dalam kehidupan sehari-hari keluarga tersebut.

Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), keluarga mempunyai 8 (delapan) fungsi, yakni: fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, serta fungsi pembinaan lingkungan. Melalui penguatan fungsi-fungsi tersebut, diharapkan keluarga memiliki ketahanan dalam mempersiapkan diri menghadapi new normal. Dalam era new normal keluarga tetap menjalankan pola hidup bersih dan saling mengingatkan antar anggota keluarga. Adapun penerapan 8 (delapan) fungsi keluarga secara menyeluruh dan konsisten dapat meningkatkan kesadaran anggota keluarga untuk tetap beraktivitas tanpa mengabaikan anjuran penerapan kehidupan yang sehat. Orangtua menjadi titik sentral karena orangtua akan menjadi contoh anak-anaknya.

Dalam fungsi agama misalnya, orangtua dapat mengajarkan anak-anaknya untuk beribadah menggunakan peralatan ibadah sendiri, cuci tangan dengan sabun antiseptik atau bahkan mandi setelah pulang dari tempat ibadah. Dari fungsi sosial budaya orangtua dapat mengajarkan anak-anaknya untuk tetap berbagi dan berinteraksi dengan memperhatikan social dan physical distancing. Fungsi cinta kasih akan memupuk cinta kasih anggota keluarga. Keluarga dapat memanfaatkan seoptimal mungkin saat komunikasi bersama seperti saat makan bersama untuk mendorong anggota keluarga menjaga perilaku hidup sehat dengan penuh kasih sayang. Salah satu upaya penerapan new normal dengan fungsi perlindungan adalah orangtua mengajarkan anak-anaknya untuk senantiasa melindungi dirinya dari penyakit dengan menjaga kebersihan, pemberian makanan dengan gizi seimbang, dan mengurangi aktivitas di luar rumah serta membekali anak dengan pengetahuan yang benar tentang pola hidup bersih dan sehat. Fungsi reproduksi mengajarkan kepada keluarga dengan anak balita, ibu hamil dan lanjut usia agar menjaga kesehatan, meningkatkan imunitas dan mengurangi aktivitas di luar rumah, serta menjaga kesehatan organ reproduksinya dengan baik.

Dalam fungsi sosialisasi dan pendidikan orangtua dapat menyampaikan informasi yang benar bagaimana hidup sehat di masa new normal secara sederhana, mudah dimengerti, sesuai dengan tahapan perkembangan anak tanpa kesan menakuti anak. Dalam masa sulit terkait dampak pandemi Covid-19 yang masih dirasakan sampai saat ini menyambut tatanan hidup yang baru, orangtua dapat mengajarkan anak-anaknya untuk hidup lebih hemat sesuai dengan fungsi ekonomi keluarga. Fungsi yang terakhir yaitu fungsi pembinaan lingkungan menanamkan perilaku kepada keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya.

Keluarga adalah benteng dalam membantu keluarga beradaptasi dengan tuntutan kehidupan new normal. Penerapan 8 (delapan) fungsi keluarga akan menjadi modal bagi keluarga menghadapi kesulitan-kesulitan yang dialami dalam perubahan perilaku sebelum dan sesudah masa new normal. Implementasi fungsi-fungsi tersebut dapat meningkatkan kualitas keluarga yang selanjutnya mewujudkan keluarga  berketahanan. Keluarga berketahanan adalah keluarga yang siap bahagia.

 

Penulis: Widi Asih Nurhajati, Widyaiswara Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat