Saat Anak Mulai Jatuh Cinta

Saat Anak Mulai Jatuh Cinta

Orang tua seringkali merasa bahwa perkembangan anak berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin mengajari anak berbicara dan berjalanan, sekarang anak sudah remaja dan mulai memperhatikan penampilan, memilih-milih parfum, mengenal lawan jenis, serta mulai mengenal kata cinta.

Jatuh cinta atau merasa tertarik dengan lawan jenis adalah hal yang wajar dialami oleh remaja. Selama masa pubertas, terjadi perubahan hormon yang luar biasa pada diri remaja. Pada remaja perempuan, hormon esterogen diproduksi 6 kali lebih banyak. Sementara pada remaja laki-laki, hormon testosteron diproduksi 20 kali lebih banyak. Melimpahnya hormon tersebut mampu berpengaruh pada mood dan ketertarikan remaja terhadap lawan jenis. Bukan hanya itu, ketika remaja jatuh cinta, terdapat 12 bagian pada otak yang bekerja bersama-sama untuk mengeluarkan bahan kimia yang mampu memicu perasaan nyaman dan senang.

Sebagai orang tua, kita tidak perlu khawatir secara berlebihan terhadap hal tersebut. Kita hanya perlu mengarahkan dan memberikan pemahaman agar perasaan cinta atau ketertarikan tersebut tidak menjerumuskan mereka pada hal-hal yang salah. Berikut adalah 7 langkah mudah yang bisa dilakukan oleh orang tua saat anak mulai jatuh cinta.

  1. Bangun lagi kedekatan dengan anak

Ketika memasuki masa remaja, anak terkesan cuek dan lebih memilih teman-temannya daripada orang tua atau keluarga. Hal tersebut tidak berarti bahwa anak sudah tidak lagi membutuhkan orang tuanya. Mereka hanya sedang tertarik dan sibuk mencoba berbagai hal di luar rumah. Maka, kedekatan emosional antara remaja dengan orang tua adalah kunci sukses dalam mendampingi mereka. Apabila remaja sudah memiliki kedekatan dengan orang tuanya, orang tua akan lebih mudah dalam memahami dunia anak dan memberikan pendampingan pada anak, termasuk menyikapi perasaan jatuh cinta.

Tidak ada kata terlambat untuk membangun kembali kedekatan dengan anak. Ingat, tidak semua cara membangun kedekatan ketika anak masih kecil bisa diterapkan kembali. Kita tidak mungkin sering mencium pada pipi dan keningnya lagi. Mulailah dari aktivitas sehari hari, seperti makan bersama sambil membicarakan hal yang membuatnya tertarik, melakukan aktivitas rumah bersama, atau menemani mereka menonton film favoritnya.

 

  1. Berusaha menjadi tempat curhat yang nyaman untuk anak

Remaja biasanya menutupi hal-hal yang tidak disukai atau tidak bisa diterima oleh orang tua. Apabila kita menginginkan anak bersikap terbuka, kita sebagai orang tua juga harus bersikap terbuka. Orang tua yang terbuka akan membuat anak lebih mudah dan nyaman untuk curhat tentang berbagai topik, termasuk soal perasaan cinta. Mulailah belajar menjadi pendengar yang baik. Pahamilah situasi dan kondisi anak yang sedang memasuki masa remaja. Jangan terburu-buru menyalahkan dan memarahi anak apabila mereka mengaku bahwa mereka sedang jatuh cinta atau sedang dekat dengan teman lawan jenisnya. Bersikaplah empati ketika anak sedang curhat. Berilah nasihat secara pelan-pelan, jika diperlukan. Apabila anak merasa nyaman untuk bercerita pada orang tua, orang tua tidak perlu lagi bertanya-tanya dan berprasangka tentang hubungan atau pergaulannya, dan orang tua lebih mengetahui kapan orang tua harus memberikan nasihat kapan tidak.

  1. Jangan jadikan perasaan anak sebagai bahan candaan

Menjadikan perasaan yang sedang dialami oleh anak sebagai candaan adalah hal yang kurang baik, terutama perasaan cinta. Hal ini akan membuat anak merasa malu dan semakin tertutup. Mereka akan merasa bahwa orang tua tidak menganggap serius apa yang sedang mereka rasakan. Padahal, bagi remaja, perasaan cinta adalah hal yang baru dan cukup serius bagi mereka. 

  1. Bercerita soal masa remaja orang tua

Bercerita soal masa ketika orang tua masih remaja adalah cara memancing anak untuk bercerita dan memberikan sinyal bahwa kita tidak anti terhadap kisah cinta anak. Dengan bercerita soal masa remaja orang tua, setidaknya orang tua dapat menunjukkan bagaimana seharusnya remaja menyikapi perasaan cinta yang dialami. Cerita yang kita bagi juga membantu mereka untuk membangun konsep mengenai hubungan yang sehat. Bercerita adalah salah satu cara terbaik untuk menasihati dan memberi contoh pada anak tanpa membuat anak merasa didikte oleh orang tua.

 

  1. Diskusi tentang batasan

Orang tua perlu mencari kesempatan atau momen yang tepat untuk berdiskusi tentang batasan-batasan dalam pergaulan. Batasan tersebut meliputi batasan dalam norma agama, norma keluarga, atau norma masyarakat. Diskusikan bersama anak mengenai apa definisi pacaran dan apa yang boleh/tidak boleh dilakukan oleh anak dalam pergaulan. Mengingat kemampuan berpikir remaja yang belum matang, berikan juga mereka informasi tentang seks bebas beserta dampaknya. Kenalkan mereka terhadap kemungkinan atau tanda apabila hubungan mereka sedang mengarah pada seks bebas. Hal ini agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.

 

  1. Arahkan pada kegiatan yang positif

Perasaan cinta pada diri remaja adalah hal yang tidak bisa kita pungkiri. Tetapi, sebagai orang tua kita perlu memahami bahwa masa remaja adalah masa yang tepat untuk memberikan pemahaman dan konsep tentang masa depan beserta perencanaannya. Hal ini karena pada masa ini, remaja sedang berusaha mencari identitas dirinya. Dengan tidak menolak adanya perasaan cinta, diskusikan tentang perencanaan masa depan bersama anak. Sarankan mereka untuk menyiapkan masa depan mulai dari sekarang. Bisa dengan menyarankan anak lebih giat belajar atau mengikuti kegiatan/organisasi yang bermanfaat. Anak perlu menghabiskan masa remaja untuk beraktualisasi diri bukan sekedar pacaran dan terjerumus dalam pergaulan bebas. Sampaikan bahwa membangun cinta di masa depan juga butuh perencanaan yang matang agar cinta berisi penuh dengan kebahagiaan, bukan penyesalan.

 

  1. Berdoa untuk anak

Bukan hanya anak yang perlu untuk selalu mendoakan orang tua, tetapi orang tua juga. Orang tua tidak bisa selama 24 jam mengawasi anak. Selain itu, orang tua juga tidak bisa benar-benar mengetahui apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan oleh anak. Selain berusaha dengan cara-cara di atas, orang tua juga perlu untuk berdoa kepada Tuhan agar senantiasa menjaga anak kita dari hubungan yang tidak sehat atau pergaulan bebas.

Tentu saja ketujuh langkah di atas tidak selalu berhasil untuk semua orang tua karena karakter dan kondisi anak yang berbeda-beda. Orang tua harus selalu ingat bahwa tidak ada usaha yang langsung membuahkan hasil, termasuk dalam mengajari anak menyikapi perasaannya. Kunci utamanya adalah terus belajar mengenali anak dan selalu kreatif/mencari cara lain jika belum berhasil. Ingatlah bahwa anak tetap membutuhkan bimbingan orang tua, meskipun mereka terkesan cuek atau sibuk dengan dunianya di luar rumah. Selamat berusaha, semoga artikel ini bermanfaat.

 

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat