Vagina Bau Tidak Sedap, Normal atau Berbahayakah?

Miss V berbau tidak sedap sering kali terjadi pada wanita, yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan terkadang kurang rasa percaya diri. sebaiknya dapat mengenali tanda-tanda bahaya jika bau tersebut mengalami perubahan menjadi sangat bau dan amis, disertai gejala-gejala yang tidak biasa, seperti gatal, keputihan yang berwarna kuning agak kehijauan bahkan sampai mengeluarkan darah di luar siklus menstruasi.

Untuk mengenali bau vagina yang tidak sedap termasuk normal ataukah berbahaya, sebaiknya kita mengenali penyebabnya terlebih dahulu. Beberapa penyebabnya sebagai berikut ini:

  1. Kurangnya menjaga kebersihan vagina

Jarang membersihkan vagina dapat menyebabkan menumpuknya koloni kuman pada area organ intim. Sebagai akibatnya, vagina bau bisa terjadi. Karena itu, setelah berkeringat (misalnya akibat olahraga), selama menstruasi, ketika mengalami keputihan yang lebih banyak dari biasanya, atau setelah berhubungan seks, disarankan untuk menjaga kebersihan organ intimnya. Caranya bisa dengan menggunakan celana dalam berbahan katun yang menyerap keringat, sering mengganti celana dalam, sering mengganti pembalut, serta buang air kecil setelah berhubungan seks.

  1. Jarang mengganti pembalut dan pantyliner

Darah menstruasi yang menumpuk dan bercampur dengan bakteri dapat menyebabkan iritasi, gatal, dan keluarnya cairan berbau tak sedap dari vagina. Para pakar kesehatan menyarankan agar mengganti wanita pembalut setiap empat hingga delapan jam, bahkan lebih sering jika perdarahan haid sedang banyak.Pantyliner yang jarang diganti juga dapat menjadi sarang bakteri, cairan keputihan yang menumpuk dapat menyebabkan bau yang tidak sedap. Sebaiknya mengganti pantyliner setiap selesai buang air kecil maupun buang air besar.

  1. Pemilihan celana dalam yang tidak tepat

Penggunaan celana dalam yang super ketat dapat menyebabkan frekuensi gesekan menjadi lebih sering. Akibatnya, berbagai macam masalah bisa muncul, termasuk iritasi kulit. Celana dalam ketat juga akan membuat keringat terperangkap di vagina yang lembap. Kondisi ini akan menjadi tempat bagi jamur untuk berkembang biak dan memicu infeksi, yang bisa berujung pada munculnya vagina bau. Celana berbahan jean juga dapat memicu bau tidak sedap karena rawan lembap jika dipakai terlalu lama.

  1. Keringat yang berlebihan

Kulit di sekitar vagina cenderung lebih berkeringat. Pasalnya, bagian luar organ intim memiliki kelenjar khusus bernama kelenjar keringat apokrin. Kelenjar tersebut mengeluarkan keringat yang mengandung protein yang akan diurai oleh bakteri. Proses inilah yang bisa memicu munculnya aroma khusus pada vagina. Apabila produksi keringat di area vagina Anda termasuk berlebihan, rasa gatal bisa saja muncul. Ketika digaruk, infeksi pun dapat terjadi dan memicu munculnya kondisi vaina bau tidak sedap. 

  1. Perubahan hormon

Perubahan hormon bisa terjadi kapan saja. Pada wanita, kadar hormon mungkin berubah selama siklus menstruasi, masa ovulasi, ketika menopause, saat menggunakan alat kontrasepsi, dan banyak lagi.  Ketika kadar estrogen dalam tubuh wanita meningkat, aroma vagina umumnya akan menjadi lebih tajam. Mungkin inilah yang menjadi penyebab vagina bau yang Anda alami.

  1. Infeksi bakteri

Vagina bau tidak sedap bisa menjadi gejala dari adanya infeksi bakteri pada organ kewanitaan Anda. Kondisi ini dikenal dengan istilah vaginosis bakteri. Selain aroma tidak enak, gejala vaginosis bakteri juga bisa berupa keluarnya cairan keputihan berwarna abu-abu atau putih susu, serta nyeri dan sensasi perih seperti terbakar pada vagina. 

  1. Trikomoniasis

Trikomoniasis termasuk salah satu penyakit menular seksual. Infeksi ini disebabkan oleh parasit bernama Trichomonas vaginalis. Pada wanita, trikomoniasis dapat memicu vagina bau amis disertai munculnya cairan berwarna kuning atau kehijauan, rasa gatal pada organ intim, dan sensasi terbakar saat buang air kecil maupun berhubungan seksual.

Untuk mengatasi sekaligus mencegah vagina bau tidak sedap, Anda dapat melakukan langkah-langkah berikut ini:

  1. Menjaga area vagina agar tetap bersih dan kering.

Area vagina yang terlalu lembap dapat menjadi sarang bagi berbagai jenis jamur maupun bakteri penyebab infeksi. Karena itu, Anda sebaiknya mengenakan celana dalam berbahan katun. Pasalnya bahan ini dapat membantu kulit pada vagina bernapas, menyerap keringat, dan tetap kering. Jika kerap mengalami keputihan dan sering berkeringat, bekali diri dengan setidaknya dua pasang celana dalam atau lebih saat bepergian. Dengan sering mengganti celana dalam, akan lebih nyaman dan jauh dari infeksi pada vagina. Dan jangan lupa kurangi pemakaian celana berbahan jean. Biasakanlah mengganti pantyliner dan pembalut tepat waktu seperti habis buang air besar dan buang air kecil, atau setiap kali pembalut terasa penuh untuk mencegah berkembangbiaknya bakteri patogen.

  1. Membersihkan vagina dengan benar.

Perhatikan cara membasuh vagina setelah buang air kecil. Siram dengan air dari arah depan ke belakang dan bukan sebaliknya. Ketika mengeringkan vagina, sebaiknya mengusap dari arah depan ke belakang menuju anus. Langkah membersihkan vagina tersebut akan mencegah bakteri dari anus agar tidak berpindah ke vagina dan memicu infeksi serta vagina bau.

  1. Mencukupi kebutuhan cairan tubuh.

Memastikan bahwa tubuh mendapatkan asupan cairan yang cukup juga penting. Orang dewasa dihimbau untuk setidaknya minum air putih sebanyak 2 liter per hari. Menghidrasi tubuh dengan baik dapat mencegah pertumbuhan bakteri berlebih pada tubuh. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pertumbuhan bakteri berlebih dapat memicu vagina bau tak sedap.

  1. Menghindari penggunaan produk kimia pada area vagina.

Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan vagina, tidak perlu menggunakan berbagai macam produk kewanitaan tertentu. Apalagi produk yang mengandung wewangian (parfum). Karena vagina merupakan area yang sensitif. Ini berarti, vagina tidak tahan dengan paparan bahan-bahan kimia. Selain menjauhi produk kewanitaan, juga sebaiknya tidak mencuci bagian dalam vagina. Misalnya dengan cara douching atau spa vagina, karena dapat mengubah PH dalam vagina. Jika memamg diperlukan penggunaan cairan pembersih vagina, lakukanlah konsultasi medis karena penggunaan yang berlebihan atau tanpa indikasi dapat mengganggu keseimbangan flora normal dalam vagina.

  1. Melakukan pola hidup yang sehat

Yaitu dengan diet seimbang, istirahat yang cukup, dan olahraga teratur. Hindarilah rokok dan alkohol serta stress yang berkepanjangan.

  1. Setialah pada pasangan. Untuk mencegah penyakit menular seksual dan gunakan kondom.
  1. Hindari pemakaian barang-barang yang memudahkan penularan seperti pemakain alat mandi bersama. Biasakan mengelap dudukan kloset sebelum menggunakannya.

Dengan mengetahui penyebab vagina bau dan cara mengatasinya, diharapkan menjadi lebih waspada dalam menjaga kesehatan organ intimnya. Jika mengalami vagina bau yang tidak kunjung sembuh atau aromanya malah makin menyengat, dan disertai rasa gatal, perdarahan tanpa sebab, atau munculnya keputihan abnormal, saatnya memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.

 

Penulis: Anggraeny Eka Riwanty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat