Tetap Bahagia Mendampingi Anak Belajar di Rumah

Di masa pandemi saat ini, Pemerintah menetapkan anak untuk belajar dirumah demi keamanan, kesehatan dan keselamatan bersama. Untuk yang memiliki anak yang sekolah di PAUD dan TK, terkadang ada beberapa orangtua yang merasa bingung tentang kegiatan apa yang bisa dilakukan anak. Ini karena guru biasanya memberi tugas tidak serutin pada anak yang ada di jenjang lebih tinggi. Sehingga orangtua seringkali bingung jika anaknya merasa bosan dirumah. Berikut ada beberapa tips untuk mengatasi hal tersebut:

  1. Pahami masa perkembangan golden age

Menurut Sigmund Freud, masa Golden Age adalah rentang usia 0-5 tahun. Pada masa ini, anak diumpamakan seperti spons yang mampu menyerap informasi, pengetahuan dan stimulus dari lingkungan dengan cepat. Karena itu, orangtua diharap mampu menstimulasi sehingga perkembangan anak menjadi lebih optimal. Pahami jika anak di rentang usia tersebut biasanya lebih banyak bertanya, mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan aktif. Tugas orangtua adalah memupuk rasa ingin tahu tersebut dengan memberi jawaban dan melempar pertanyaan untuk mengembangkan sikap kritisnya. Hindari juga penggunaan gadget dan dorong untuk melakukan kegiatan fisik untuk melatih motorik halus dan kasarnya.

  1. Pahami tuntutan perkembangan anak di usia TK-PAUD

Saat ini di sekolah, umumnya pada usia TK dan PAUD telah diajarkan calistung. Namun, pahami jika anak pada usia tersebut lebih tertarik untuk bermain dan belum waktunya belajar secara formal. Boleh mengenalkan angka dan huruf namun jangan memaksakan anak untuk mampu menulis, membaca maupun berhitung. Lebih baik, mulai kenalkan melalui permainan-permainan yang menarik, lagu atau nyanyian, kenalkan secara bertahap (misal huruf A-E terlebih dahulu hingga beberapa minggu atau angka 1-10 dulu baru lanjut ke tahap berikutnya) dan puji bila anak mampu mengulang yang diajarkan orangtua. Pujian dapat mendorong rasa percaya diri dan meningkatkan minat anak untuk terus menerima atau belajar hal-hal baru. Yang terpenting diingat, jangan marahi anak bila belum dapat mengingat huruf atau angka maupun calistung karena hakikat anak pada usia tersebut adalah bermain. Bermain bagi mereka adalah sarana untuk belajar.

  1. Temani anak belajar dan bermain dirumah atau dihalaman

Bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan, dilakukan secara sukarela dan tidak ada tekanan dari luar atau kewajiban (Hurlock, Elizabeth D. 1978). Piaget menjelaskan jika bermain “terdiri atas tanggapan yang diulang sekedar untuk kesenangan fungsional”. Namun pada intinya, bermain dapat dibagi ke dalam dua kategori yaitu aktif dan pasif dimana proporsi waktu tergantung pada kesehatan dan minat dari masing-masing anak. Untuk anak yang sehat dan lebih senang bermain menggunakan fisik, biasanya akan lebih banyak waktu bermainnya berupa berlari, berenang, main bola dan lain-lain. Sementara ada anak lain yang lebih berminat bermain di dalam rumah atau hanya menggunakan sedikit energi misalnya berupa masak-masakan, membaca, mewarnai, menggambar dan lain-lain. Yang juga harus dipahami, bermain memberikan banyak pengaruh positif bagi anak, misalnya (Hurlock, Elizabeth D. 1978):

    1. Mengembangkan kemampuan fisik (otot, melatih seluruh bagian tubuh)
    2. Mendorong anak untuk terampil berkomunikasi dengan orang lain
    3. Menyalurkan energi emosional (ketegangan) yang terpendam
    4. Menyalurkan kebutuhan dan keinginan yang tidak terpenuhi dalam bentuk bermain (misal, ada anak yang ingin menjadi pemimpin namun sulit di kehidupan nyata dan akhirnya tersalurkan dengan menjadi pemimpin tentara mainan)
    5. Sumber belajar selain dari sekolah
    6. Merangsang kreativitas. Kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir dalam cara-cara yang baru dan tidak biasa serta menghasilkan pemecahan masalah yang unik. Kreativitas berbeda dengan kecerdasan. Sebagian besar orang-orang kreatif adalah yang cerdas namun sebaliknya, orang-orang yang cerdas belum tentu kreatif. (Santrock, John W. 2007)
    7. Mengembangkan wawasan, kemampuan diri dengan membandingkan terhadap temannya
    8. Belajar bersosialisasi atau bermasyarakat
    9. Standar moral
    10. Belajar bermain sesuai dengan peran jenis kelamin
  1. Ingatkan anak untuk menjaga jarak dengan orang lain dan tetap menjaga kebersihan

Bila anak lebih menyukai bermain di luar rumah, usahakan untuk menghindari tempat yang banyak orang dan tetap menjaga jarak. Ajarkan anak untuk menggunakan masker dan tidak memegang barang yang ada di jalan. Jika memegang, ingatkan anak untuk segera mencuci tangan atau menggunakan handsanitizer.

  1. Ajak anak untuk mengeksplorasi

Waktu anak yang lebih banyak dirumah juga dapat menjadi salah satu cara orangtua untuk mempererat bonding atau hubungan. Orangtua mampu lebih leluasa untuk mendorong anak bereksplorasi dengan mengajaknya melakukan kegiatan-kegiatan baru. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan yaitu :

    1. Mengajak anak untuk menonton film kartun atau film anak bersama dirumah dan jangan lupa dampingi. Dorong anak untuk bercerita kembali. Ini dapat mengasah kemampuan berkomunikasi dan menambah kosakatanya.
    2. Ikutkan anak saat memasak, beri tugas sesuai kemampuan dan tetap awasi. Misalnya, membantu mengocok telur, mengambilkan bahan dan lain-lain. Sambil memasak, orangtua dapat bercerita mengenai bahan masakan dan makanan tersebut. Misalnya, wortel memiliki vitamin A dan dapat berguna untuk perkembangan mata. Ini juga dapat mendorong minat anak untuk makan karena merasa ikut memasak masakan tersebut.
    3. Print gambar yang disukai anak dan minta anak untuk mewarnai. Atau bisa juga memberi anak kertas kosong untuk menggambar sesuai keinginannya. Kegiatan ini dapat mengasah kreativitas anak.
    4. Ajak anak untuk bermain wayang buatan sendiri. Print gambar yang disukai, tempelkan pada sedotan dan ajak mereka untuk bermain wayang. Melalui permainan ini, orangtua bisa menyelipkan nilai moral sehingga anak dapat lebih cepat paham. Misalnya, menggunakan tema jagalah kebersihan, orangtua bisa mengajarkan anak untuk membuang sampah di tempatnya, dampak bila buang sampah sembarangan dan lain-lain, melalui wayang yang telah dibuat bersama.
    5. Beli piring kertas, siapkan lem dan gambar-gambar karakter yang menarik. Gunting karakter per bagian lalu ajak anak untuk menempel di atas piring kertas tersebut. Kegiatan ini dapat mengasah kreativitas dan motorik halus. Kemudian dorong anak bercerita sehingga kemampuan berkomunikasinya juga makin terampil.
  1. Temukan minat anak

Dari kegiatan-kegiatan di atas, orangtua dapat menemukan minat dan kelebihan dari anak. Misalnya, anak lebih tertarik untuk membuat prakarya atau anak lebih menyukai bercerita dan lain-lain. Orangtua juga dapat mengetahui kemampuan apa yang perlu lebih diasah. Contohnya, anak belum terampil dalam menggunting, anak masih cenderung kurang merasa nyaman saat diminta bercerita, dan lain-lain. Dari evaluasi pribadi tersebut, orangtua mampu menentukan langkah lanjutan yang dibutuhkan agar perkembangan anak lebih optimal.

  1. Jangan lupa kerjasama dengan suami

Anak adalah tanggungjawab bersama sehingga sudah sewajarnya suami ikut berkontribusi dalam mengasuh. Jelaskan pada suami tentang manfaat bermain sehingga terdoronguntuk menemani anak bermain dan belajar dirumah. Ini juga dapat membuat anak merasa lengkap diasuh oleh ayah dan ibu tanpa ada satu pihak yang lebih dominan.

  1. Hindari terlalu menuntut diri sendiri

Pahami jika diri sendiri memiliki keterbatasan baik tenaga, waktu dan lain-lain. Sehingga lakukan proses stimulasi di atas sesuai dengan kemampuan diri. Inilah mengapa penting mengajak suami untuk bekerjasama sehingga dapat saling berbagi tugas dan tanggung jawab. Terkadang kegiatan mengasuh anak dan berada bersama anak dirumah dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan ibu menjadi stres. Stres adalah respons terhadap berbagai kondisi lingkungan dan dapat mengakibatkan berbagai perubahan fisiologis.  Ada juga yang menyatakan jika stres adalah stimulus (penyebab), bukan respons (akibat). Dimana stimuli tersebut berupa pengalaman yang dirasakan tidak menyenangkan bagi seseorang. Jadi, seseorang dapat merasa stres saat disebabkan oleh hal-hal tertentu namun juga bisa karena stres maka menimbulkan dampak secara fisik pada dirinya (Davison, C. Gerald., Neale, M. John., Kring, Ann.M., Februari 2010). Jika merasa diri mulai stres dan jenuh dengan situasi dirumah, jangan lupa untuk istirahat, relaksasi dan mengerjakan hal yang merupakan minat kita.

 

Penulis: Ayu Larasati, M.Psi., Psi. | Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat